Home | Notifications | New Note | Local | Federated | Search | Logout

Note Detail


Reply to @under_it@mastodon.social
Kucing Hitam Kamis@under_it@mastodon.social (2026-08-16 03:35:16)
Warga desa yang lagi nabung untuk beli gawai tapi jadi ga bisa karena dolar naik dan harga ikutan naik, layak untuk marah.

Pekerja warmad, indoalfa, dan kelontongan yang tiba-tiba harus bersaing dengan koperasi tentara yang mendapat banyak eksklusivitas yang tidak adil, layak untuk marah.

Tidak perlu diatur-atur, kapan mereka boleh marah. Marah ya marah aja. Tentu bisa lebih efektif kalau marahnya tersimpul bersama dan terorganisasi.

Kalau mau.
---Reply--- Kucing Hitam Kamis@under_it@mastodon.social (2026-08-16 03:37:12) Dan sekarang, ada bencana di NTT. Apakah prabodoh akan tetap melanjutkan seremonial militeristik akbarnya besok, atau memutar perhatian kepada korban bencana?
Reply

---Replies---
Kucing Hitam Kamis@under_it@mastodon.social (2026-08-16 03:47:06)
Gempa hanya berselang waktu 36 jam dari seremonial militeristik akbar adalah timing kosmik agung yang harusnya cukup menyentak seorang takhayulis seperti prabodoh. Apalagi, di tahun lalu, di acara HUT TNI, juga ada kejadian bendera robek yang tersisa bendera putih.

Politikus seperti Megawati dan Jusuf Kalla sudah bermanuver. Aku bisa membayangkan, memilih tidak hadir di seremonial militeristik akbar untuk hadir bersama warga di lokasi bencana bisa jadi nilai tambah elektoral.
nawan@nawanp@fe.disroot.org (2026-08-17 13:41:24)
@under_it Susah ini karena sudah jadi acara tahunan. Bahkan waktu pandemi saja juga upacara juga tetap jalan kok, lalu berpikir bahwa upacara detik-detik proklamasi tahun ini bakal dibatalkan “cuma” karena gempa di NTT rasanya seperti mimpi di siang bolong 😌